
Berita Dunia tentang Industri Minyak dan Gas serta Energi pada 6 Januari 2026: minyak dan gas, energi terbarukan, batubara, listrik, kilang minyak, pasar komoditas, dan tren kunci sektor EBT global untuk investor dan pelaku pasar.
Tren Utama Pasar Energi Global
Tahun 2025 ditutup untuk kompleks energi berbahan bakar fosil global (TEK) di tengah faktor yang kontradiktif: harga minyak selama setahun turun hampir 20% karena kekhawatiran akan kelebihan pasokan, sementara ketegangan geopolitik yang terus berlanjut mendukung permintaan akan aset "defensif". Kombinasi faktor ini menciptakan latar belakang yang tidak jelas bagi pelaku pasar dan investor, memaksa mereka untuk memantau perkembangan situasi. Para ahli percaya bahwa pada tahun 2026, pasar minyak dapat mengalami kelebihan pasokan, yang memberikan tekanan penurunan pada harga. Namun, faktor lokal — seperti sanksi Barat yang terus berjalan (termasuk embargo UE terhadap produk minyak dari Rusia) dan gangguan produksi (akibat serangan baru-baru ini terhadap sejumlah fasilitas pengolahan minyak) — membatasi ekspor dan mencegah harga jatuh, terutama mempertahankan margin tinggi pada bahan bakar diesel.
Tren di pasar gas berubah bahkan lebih cepat: Eropa mempercepat pengurangan pasokan gas pipa dari Rusia (transit melalui Ukraina praktis dihentikan pada akhir 2025) dan berencana untuk sepenuhnya melepaskan diri dari gas Rusia pada tahun 2028, sambil meningkatkan impor LNG. Sementara itu, beberapa negara Asia mengubah rute pasokan sebagai respons terhadap ketegangan perdagangan, mengurangi pembelian LNG dari AS karena tarif yang diterapkan pada bahan bakar energi dari AS. Pada saat yang sama, permintaan global untuk listrik terus tumbuh pesat — didorong oleh lonjakan pusat data, pengembangan teknologi kecerdasan buatan, dan elektrifikasi massal transportasi dan sektor rumah tangga — yang merangsang investasi dalam energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi. Selain itu, musim dingin yang relatif hangat di Eropa di awal musim pemanasan membantu menekan harga gas dan memastikan stabilitas pasokan, meredakan kemungkinan gejolak di pasar.
Pasar Minyak: Harga dan Proyeksi
- Latar Belakang Harga: para ahli memperkirakan bahwa pada tahun 2026, minyak Brent akan diperdagangkan dalam kisaran sekitar $60–65 per barel. Diperkirakan bahwa penawaran kumulatif dalam beberapa bulan mendatang akan melebihi permintaan global sekitar 3–4 juta barel per hari, yang akan menyebabkan peningkatan cadangan komersial minyak.
- Kebijakan OPEC+: aliansi OPEC+ menahan diri dari peningkatan produksi dan mempertahankan batasan produksi yang berlaku. Total volume pemotongan dalam perjanjian ini mencapai sekitar 3,2 juta barel per hari (sekitar 3% dari permintaan global).
- Permintaan: ekonomi global secara keseluruhan menunjukkan pertumbuhan yang stabil, yang mengarah pada peningkatan konsumsi minyak global sebesar beberapa ratus ribu barel per hari pada tahun 2026. Permintaan paling aktif berkembang di negara-negara Asia dan Timur Tengah, sementara di AS, produksi minyak serpih mulai perlahan menurun.
- Geopolitik: kemungkinan penyelesaian damai konflik di sekitar Ukraina dapat dengan tajam mengubah keseimbangan di pasar minyak. Penghapusan sanksi dan kembalinya volume besar minyak Rusia ke pasar global akan meningkatkan pasokan dan memperkuat tekanan pada harga, sementara keberlanjutan pembatasan akan terus mendukung harga pada tingkat yang lebih tinggi.
Pasar Gas: Pasokan dan Permintaan
- Pasokan Pipa: ekspor gas alam Rusia melalui pipa ke Eropa telah menurun lebih dari 40% pada akhir 2025 akibat penghentian transit melalui Ukraina. Dengan mempertimbangkan bahwa UE berniat untuk sepenuhnya menghapus impor gas Rusia pada tahun 2028, hanya ada beberapa jalur alternatif yang tersisa untuk pasokan dari Rusia (kebanyakan melalui Turki).
- LNG dan Alternatif: negara-negara Eropa dengan tajam meningkatkan pembelian gas alam cair (LNG) dari AS, Qatar, dan negara-negara lain sebagai kompensasi untuk penurunan pasokan pipa. Sementara itu, beberapa negara Asia telah mengurangi impor LNG AS karena tarif yang diterapkan; permintaan untuk gas cair di China dan India, sebaliknya, terus tumbuh karena ekonomi ini berupaya untuk mendiversifikasi sumber bahan bakar dan memperkuat ketahanan energi.
- Tren Regional: Turki berinvestasi dalam mengembangkan infrastruktur gas dan memperluas penyimpanan, berusaha untuk meningkatkan ketahanan energinya sendiri. Di China, diperkirakan bahwa permintaan gas alam akan terus meningkat hingga tahun 2035–2040, mencapai sekitar 620–650 miliar m³ per tahun; ini memicu perluasan lebih lanjut dari jaringan gas nasional.
Energi Terbarukan dan Listrik
- Permintaan Listrik: di banyak negara, ada pertumbuhan konsumsi listrik yang mencapai rekor. Di AS, konsumsi listrik tahunan dapat melampaui 4,2 triliun kWh pada tahun 2026 berkat lonjakan pusat data, penerapan kecerdasan buatan, serta elektrifikasi aktif transportasi dan layanan publik.
- Proporsi EBT: kontribusi sumber energi terbarukan dalam produksi listrik global terus meningkat. Diperkirakan, pada tahun 2030, total kapasitas terpasang "generasi hijau" akan melampaui 4,6 TW (sekitar 80% dari volume ini akan berasal dari pembangkit listrik tenaga surya). Dalam beberapa tahun ke depan, diperkirakan ada pertumbuhan pesat dalam produksi berdasarkan energi angin dan matahari berkat insentif pemerintah dan penurunan biaya teknologi.
- Penyimpanan Energi: penerapan sistem penyimpanan energi (baterai industri) cepat mendapatkan momentum. Perusahaan-perusahaan China menjadi pemimpin di bidang ini — ekspor baterai lithium-ion mereka untuk penyimpanan stasioner meningkat sebesar 75% pada tahun 2025. Investasi global dalam teknologi penyimpanan juga meluas dan diperkirakan dapat melampaui $60 miliar pada akhir tahun ini.
Sektor Batubara
- Permintaan Global: menurut estimasi Badan Energi Internasional (IEA), pada akhir tahun 2025, konsumsi batubara global mencapai rekor 8,85 miliar ton (0,5% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya) dan diperkirakan akan mulai menurun secara bertahap menjelang akhir dekade ini. Proses ini didorong oleh pertumbuhan kapasitas di sektor energi terbarukan, nuklir, dan gas, yang secara bertahap menggantikan batubara dari neraca energi.
- Dinamika Regional: di India, permintaan batubara menurun akibat hujan yang sangat deras dan pembangkit listrik tenaga air yang mencetak rekor, sedangkan di AS, penggunaan batubara meningkat di tengah kenaikan harga gas alam. China — konsumen batubara terbesar di dunia (konsumsi mereka sekitar 30% lebih besar dari total konsumsi negara lain) — pada tahun 2025 menstabilkan konsumsi, tetapi diperkirakan pada tahun 2030-an proporsi batubara dalam neraca energinya akan mulai menurun.
- Faktor Lingkungan: pemerintah terus mencari keseimbangan antara tujuan iklim dan penyediaan keamanan energi. Meskipun ada regulasi yang ketat dengan fokus pada dekarbonisasi, sektor batubara tetap menjadi bagian penting dari pasokan energi di sejumlah wilayah, menciptakan ketidakpastian bagi investor dan menyulitkan perencanaan strategis di sektor energi.
Pengolahan Minyak dan Produk Minyak
- Defisit Diesel: pada tahun 2025, margin pengolahan bahan bakar diesel di Eropa meningkat sekitar 30%, meskipun harga minyak turun. Situasi ini disebabkan oleh serangan terhadap kilang minyak Ukraina dan embargo Uni Eropa terhadap produk minyak dari minyak Rusia. Penawaran terbatasi untuk fraksi diesel mempertahankan spread harga tinggi untuk produk minyak.
- Kapasitas Baru: tidak ada peluncuran kilang minyak baru besar di negara-negara maju yang diharapkan dalam beberapa tahun mendatang, sehingga pasar produk minyak tetap mengalami defisit struktural. Banyak analis percaya bahwa margin pengolahan yang sangat tinggi akan terjaga hingga kapasitas pengolahan minyak tambahan tersedia.
- Venezuela: perusahaan minyak PDVSA terpaksa menimbun residu minyak berat dalam tangki, karena sanksi AS masih membatasi ekspor bahan bakar berat dan lainnya dari Venezuela. Hal ini memperburuk kekurangan bahan bakar kapal (bunker) di pasar global dan sangat terasa bagi negara-negara yang bergantung pada pasokan dari Venezuela.
Peristiwa dan Proyek Korporat
- Kontrak dan Investasi: perusahaan minyak dan gas besar terus menandatangani kesepakatan besar untuk proyek pengembangan. Misalnya, perusahaan Italia Saipem mendapatkan kontrak senilai $425 juta untuk eksploitasi ladang gas terbesar Sakarya di Turki. Perusahaan independen Inggris Harbour Energy menjadi operator ladang minyak Meksiko Zama (dengan basis sumber daya sekitar 750 juta barel) dan juga menandatangani kesepakatan senilai $3,2 miliar untuk pengembangan proyek di Teluk Meksiko, yang menguatkan posisinya di wilayah tersebut.
- Merger dan Akuisisi: pada bulan Desember 2025, Harbour Energy mengakuisisi 32% saham dalam proyek Zama dan mendapatkan kendali atas aset perusahaan LLOG di Teluk Meksiko. Kesepakatan ini memungkinkan Harbour menjadi operator dua proyek minyak dan gas independen terbesar di wilayah tersebut.
- Sanksi dan Lisensi: lembaga pengatur terus mempengaruhi industri. Di Serbia, kilang minyak perusahaan NIS (dikelola oleh "Gazprom Neft") mendapatkan lisensi sementara dari OFAC yang memungkinkan kegiatan operasional hingga 23 Januari 2026. Langkah ini memberikan kesempatan untuk melanjutkan operasi pabrik setelah terhenti akibat sanksi AS, namun nasib lisensi ke depan masih tidak pasti.
Indikator Keuangan dan Pasar
- Tren Bursa: dinamika indeks saham perusahaan sektor energi secara keseluruhan mencerminkan situasi di pasar komoditas. Pada akhir tahun 2025, indeks-indeks bursa utama di Timur Tengah turun mengikuti penurunan harga minyak (misalnya, indeks utama Arab Saudi turun sekitar 1%), dan saham perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia menunjukkan penurunan moderat.
- Kebijakan Moneter: keputusan bank sentral secara langsung mempengaruhi iklim investasi. Misalnya, di Mesir, penurunan suku bunga acuan sebesar 100 bps di akhir tahun memicu kenaikan indeks saham nasional sekitar 0,9%, merangsang permintaan domestik. Tindakan serupa terkait pelonggaran kebijakan moneter juga dibahas di negara-negara ekonomi berkembang lainnya, yang dalam perspektif jangka panjang dapat menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi perusahaan sektor energi berbahan bakar fosil.