
Berita Global Sektor Minyak dan Energi per 22 Desember 2025: minyak, gas, LNG, EBT, batu bara, produk minyak dan tren utama di sektor energi global. Analisis untuk investor dan pemangku kepentingan pasar.
Komplek energi dan bahan bakar global sedang mengalami perubahan signifikan yang diawasi dengan cermat oleh investor dan pelaku pasar. Harga minyak turun ke level terendah dalam empat tahun terakhir akibat oversupply dan ketidakpastian geopolitik. Eropa memasuki musim dingin dengan cadangan gas alam yang nyaman (unit penyimpanan terisi lebih dari 90%) berkat impor LNG yang mencapai rekor, yang menstabilkan pasar dan harga gas. Sementara itu, sektor energi sedang beralih secara cepat ke sumber energi terbarukan: pada tahun 2025, pertumbuhan pembangkit energi terbarukan mencapai rekor, menempatkan industri batu bara di depan prospek penurunan permintaan secara bertahap. Berikut adalah berita dan tren kunci dari sektor energi dan bahan bakar per 22 Desember 2025.
Harga Minyak dan Strategi OPEC+
Di pasar minyak, terdapat penurunan harga: minyak mentah Brent berada di sekitar $60 per barel, yang merupakan level terendah sejak tahun 2021. Alasan utamanya adalah kekhawatiran terhadap oversupply dan pelemahan musiman permintaan di awal tahun. Aliansi OPEC+ menanggapi situasi ini dengan menyetujui peningkatan produksi kecil pada bulan Desember (+137 ribu barel per hari) dan memutuskan untuk menghentikan pertumbuhan produksi lebih lanjut pada kuartal pertama tahun 2026 guna mencegah kelebihan produksi. Faktor tambahan ketidakpastian adalah sanksi baru dari Barat terhadap perusahaan minyak besar Rusia, yang menyulitkan peningkatan ekspor dari Rusia.
- Peningkatan Penawaran: Sejak April 2025, OPEC+ secara bertahap meningkatkan produksi (total sekitar 2,9 juta barel/hari), yang dengan permintaan yang stabil menghasilkan kelebihan volume minyak di pasar.
- Faktor Musiman: Awal tahun secara tradisional ditandai dengan konsumsi minyak dan produk minyak yang lebih rendah, meningkatkan tekanan pada harga selama periode ini.
- Geopolitik dan Sanksi: Pembatasan sanksi terhadap sejumlah negara penghasil minyak tetap berlaku, menjaga sebagian penawaran di luar pasar dan menciptakan ketidakpastian di dalamnya.
Dalam kondisi volatilitas yang tinggi, perusahaan minyak dan bahan bakar berusaha untuk bereaksi dengan cepat terhadap perubahan konjungtur. Mereka dibantu oleh alat digital: misalnya, platform "Open Oil Market" memungkinkan untuk melacak harga minyak dan produk minyak secara real-time, yang membantu investor mengambil keputusan lebih cepat di pasar.
Pasar Gas Alam dan LNG
Pasar gas Eropa memasuki musim dingin dengan relatif stabil. Unit penyimpanan gas di Uni Eropa terisi di atas 90% kapasitas, yang mengurangi risiko kekurangan bahkan jika cuaca dingin. Impor LNG yang aktif telah membantu mengkompensasi penurunan drastis pemasokan pipa dari Rusia. Harga gas di Eropa telah stabil pada level yang jauh di bawah puncak tahun 2022, yang meringankan beban pengeluaran untuk industri dan masyarakat.
- Impor LNG Rekor: Pada tahun 2025, Eropa mengimpor sekitar 284 miliar meter kubik LNG, memecahkan rekor sebelumnya. Pemasok utama adalah AS (hingga 60% dari total), diikuti oleh Qatar dan eksportir lainnya.
- Pemutusan Jaringan Gas Rusia: Uni Eropa merencanakan untuk sepenuhnya menghentikan impor gas Rusia pada tahun 2027. Mulai awal tahun 2026, larangan terhadap pembelian LNG Rusia di pasar spot akan diberlakukan, memaksa negara-negara Uni Eropa untuk beralih ke sumber lain.
Secara global, permintaan gas tetap stabil berkat pasar Asia, namun persaingan di antara pemasok semakin meningkat. Negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara berinvestasi dalam proyek LNG, berharap untuk mengambil posisi di pasar yang sedang berkembang. Pada saat yang sama, peningkatan ekspor gas dari AS dan Australia menciptakan kelebihan penawaran, menjaga harga tetap pada level moderat.
Energi Terbarukan: Pertumbuhan Rekor
Tahun 2025 menjadi tahun yang penting bagi energi terbarukan. Di seluruh dunia, terdapat peningkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kapasitas baru pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Menurut laporan industri, selama paruh pertama tahun 2025, kapasitas solar dan angin yang terpasang meningkat lebih dari 60% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah dunia, produksi listrik berbasis energi terbarukan melebihi produksi dari pembangkit listrik tenaga batu bara dalam satu semester. Perkembangan pesat dalam pembangkit energi hijau ini berlangsung di tengah investasi besar-besaran: total investasi dalam energi bersih di seluruh dunia mencapai sekitar $2 triliun pada tahun 2025. Namun, meskipun dengan laju yang rekor, ini masih belum cukup untuk mencapai tujuan iklim - diperlukan investasi lebih lanjut dan modernisasi jaringan listrik.
Keberhasilan Cina patut dicatat, sebagai lokomotif transisi energi. Berkat pemasangan ratusan gigawatt kapasitas solar dan angin baru, Cina berhasil menahan pertumbuhan emisi CO2 pada tahun 2025, meskipun konsumsi listrik meningkat. Pengalaman Cina menunjukkan bahwa investasi besar dalam energi terbarukan dapat sekaligus memenuhi permintaan listrik yang meningkat dan mengurangi jejak karbon.
Sektor Batu Bara: Puncak Permintaan
Permintaan global untuk batu bara pada tahun 2025 mencapai level tertinggi dalam sejarah, meskipun laju pertumbuhannya melambat ke level terendah. Menurut data Badan Energi Internasional (IEA), konsumsi batu bara global hanya meningkat sebesar 0,5% dan mencapai sekitar 8,85 miliar ton - volume rekor, setelah itu diperkirakan akan ada plateau yang panjang dan penurunan bertahap menuju tahun 2030. Batu bara tetap menjadi bahan bakar terbesar untuk pembangkit listrik di seluruh dunia, namun pangsa pasarnya mulai menyusut akibat persaingan dari sumber energi alternatif.
Tren regional bervariasi. Di Cina - konsumen batu bara terbesar (sekitar setengah dari konsumsi dunia) - permintaan pada tahun 2025 stabil dan diperkirakan akan menurun secara bertahap pada akhir dekade dengan pemasangan kapasitas EBT baru. Di India, karena produksi hidroelektrik yang rekor, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun tercatat penurunan sementara dalam penggunaan batu bara. Di AS, terdapat sedikit peningkatan dalam pembakaran batu bara di tengah harga gas yang tinggi dan dukungan pemerintah untuk memperpanjang operasi PLTU batu bara. Semua faktor ini mengkonfirmasi bahwa puncak permintaan batu bara global sudah dekat, dan dinamika ke depan akan tergantung pada laju transisi energi di ekonomi terbesar.
Produk Minyak dan Pengolahan: Margin Tinggi
Pasar produk minyak pada akhir tahun 2025 menunjukkan profitabilitas tinggi bagi pengolah. Indikator global margin pengolahan minyak ("crack spreads") meningkat ke level tertinggi dalam bertahun-tahun. Alasan - sanksi (yang mengurangi ekspor produk minyak dari Rusia), penutupan dan perbaikan sejumlah kilang besar di Eropa dan AS, serta keterlambatan dalam peluncuran kapasitas pengolahan baru di Timur Tengah dan Afrika. Segmen bahan bakar diesel di Eropa tetap sangat menguntungkan: margin pengolahan diesel di Eropa naik ke level yang belum pernah terlihat sejak 2023, menunjukkan defisit struktural untuk bahan bakar ini.
Sebagai respons, kilang pengolahan berusaha memaksimalkan kapasitas untuk memanfaatkan konjungtur yang menguntungkan. Perusahaan minyak besar dalam beberapa kuartal terakhir mencatat pertumbuhan tajam dalam profit di segmen hilir (pengolahan dan distribusi) berkat tingginya harga bensin dan diesel. Menurut data IEA, kilang di Eropa meningkatkan pengolahan minyak hingga ratusan ribu barel per hari pada paruh kedua tahun 2025 berkat margin tinggi. Para analis mencatat bahwa tanpa penambahan kapasitas baru di Eropa dan Amerika Utara, defisit bahan bakar kemungkinan akan tetap ada, mendukung tingkat margin tinggi pada tahun 2026 juga.
Geopolitik dan Sanksi: Dampak pada Pasar
Faktor geopolitik terus memengaruhi pasar komoditas secara signifikan. Regime sanksi terhadap sektor minyak dan gas tetap berlaku, dan penegakan ketat mereka telah dikonfirmasi oleh peristiwa terbaru. Pada bulan Desember, AS menangkap tanker minyak di dekat pantai Venezuela, menghentikan upaya untuk menghindari sanksi. Secara bersamaan, AS memperkuat tekanan pada "armada bayangan" yang mengangkut minyak Iran: meskipun ada pembatasan baru, ekspor dari Iran pada tahun 2025 mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun berkat pengiriman ke Asia. Ekspor minyak dan produk minyak Rusia telah dialihkan ke pasar alternatif (Cina, India, Timur Tengah), namun batasan harga dan sanksi UE terus memangkas pendapatan sektor tersebut. Uni Eropa juga memperketat langkah-langkah pembatasan: selain embargo minyak, pada awal tahun 2026 larangan terhadap impor LNG Rusia akan diberlakukan - secara de facto menyelesaikan pemutusan Eropa dari sumber energi Rusia.
Dalam konteks ini, para pelaku pasar memperhitungkan risiko geopolitik yang meningkat dan premi harga dalam proyeksi mereka. Setiap sinyal potensi pelonggaran sanksi atau kemajuan diplomatik dapat secara signifikan mempengaruhi suasana hati investor. Namun, perusahaan minyak dan gas sedang menyesuaikan diri dengan struktur arus dan harga baru - mendiversifikasi logistik dan mencari peluang di wilayah yang kurang terpengaruh oleh sanksi.
Investasi dan Proyek: Pandangan ke Depan
Meskipun pasar sedang volatile, investasi besar dalam energi terus berlanjut di seluruh dunia. Negara-negara di Timur Tengah meningkatkan investasi mereka dalam eksplorasi dan produksi minyak dan gas: perusahaan nasional memperluas kapasitas produksi untuk mempertahankan pangsa pasar dalam jangka panjang. Khususnya, di UEA, perusahaan ADNOC telah menarik pembiayaan sekitar $11 miliar untuk proyek peningkatan produksi gas. Secara bersamaan, eksportir utama (Qatar, AS) melaksanakan proyek perluasan terminal LNG, mengharapkan permintaan global untuk gas ini terus meningkat.
Dana yang signifikan juga diarahkan ke energi bersih. Investasi global dalam sumber energi terbarukan terus meningkat: korporasi berinvestasi dalam proyek solar dan angin, serta infrastruktur penyimpanan energi. Namun untuk mencapai tujuan dekarbonisasi, dibutuhkan lebih banyak upaya dan sumber daya. Teknologi baru - seperti energi hidrogen dan penyimpanan energi - semakin menjadi arah yang menarik untuk investasi. Diperkirakan bahwa tahun 2026 akan membawa kesepakatan merger dan akuisisi baru di sektor ini, serta peluncuran proyek besar baik di segmen minyak dan gas tradisional maupun di sektor energi terbarukan.